Tepat 2 bulan hari ini anak sulungku Wildan masuk SMA. barangkali tidak terlalu istimewa dijaman sekarang semua anak-anak rata-rata sudah sekolah sma bahkan perguruan tinggi,
tapi bagiku hal ini sungguh sangat istimewa bukan hanya karena anakku masuk di salah satu SMA favorit di kotaku tetapi juga adalah masa-masa dia harus jauh dariku, pisah rumah, ngak bisa makan sore bareng setiap hari dan yang pasti tidak bisa mengawasi semua kegiatannya setiap hari.
kami memang tinggal di desa lebih dekat ke tempat kerja ku dan suami jadi otomatis anakku harus pindah ke pusat kota sesuai sma yang diinginkan.
Sebetulnya di desa kami ada SMA yang cukup baik tetapi pertimbangan keamanan di jalan sehingga aku dan suami memutuskan untuk menyekolahkan di tempat lain.
heem buat beberapa ibu barangkali moment pisah anak dianggap biasa saja, biasanya satu minggu rasanya kehilangan sudah itu biasa saja........tapi bagiku lain, aku kawatir makannya gimana? sholatnya gimana? kegiatannya apa?, takut sakit kalau malam hari bagaimana? pokokke semuanya aku pikirkan, sebulan pertama aku tiap hari aku terus telpon anakku (mak rempong ya padahal malah ganggu anaknya kan...........)tapi gimana ya namanya kelhilangan bahkan beberapa makan favoritnya hampir 1 bulan aku ngak makan, hanya karena rasanya ngak bisa ngelek kalau basa jawanya hehe...........setiap makan favoritnya.
oh ya anakku kos di dekat sekolah dengan pertimbangan disana makan dan cuci baju langsung oleh ibu kos
bukan karena anak mami ya? tapi perlu diketahui anak-anak sekarang lain dari pada kita dulu, susah makan dan susah beberes, padahal yang salah maknya juga ya? haduuh mau gimana lagi.........hehe.....
tapi teteplah saran ku perhatikan makannya, bukan apa-apa anak kos sekarang maunya yang pratis, apalagi ada mie instan hadeh..........banyak banget anak2 tetanggaku yang sakit gegara ini, oh ya di lingkungan perumahanku hampir semua anak-anaknya sekolah diluar lingkungan kami bahkan ada yang didaerah asal ortunya masing-masing, khususnya mengijak sekolah menengah
Balik lagi ceritaku tentang anakku yang sulung ya........
pisah dengan anakku juga membuat dapur kami menjadi 2, bukan apa2 bulan pertama kebutuhannya luar biasa banyak mulai dari tetek bengek kosan, baju sekolah baru, les pelajaran sekolah bahkan uang jajan dan ongkos.
hehe........awal-awal sekolah anakku betul betul belum bisa mengatur keperluan sekolah, kalau mau beli buku langsung dibayar sekaligus jadi kemudian laporan belum satu minggu duitnya tinggal Rp. 30.000 , padahal siang harus makan disekolahan, hadeh......terpaksa deh aku pulang kerja musti ke kota buat anterin duit lagi, sudah emaknya rempong eh anaknya juga rempong.........giliran mau ditransfer lewat keponakan dia ngak mau karena mau ketemu ibunya. belum lagi kalau sepi dan ngak ada kegiatan haduh kasihan anakku, oh Ilove you nang........
satu bulan berlalu rasanya aku kekota hampir setiap minggu untuk menjenguk anakku sekaligus membantu segala keperluannya. ngak kebayang ya kalau anakknya jauh di daerah lain bakalan ribet kayaknya urusan cuti, biaya dll. untung kami mencoba pelan-pelan mengajarkan anakku mandiri, hitung-hitung persiapan kalau nanti kuliah.
Sekarang 2 bulan berlalu jagoanku sudah mulai bisa mengatur keperluannya sendiri, sambil aku sendiri mulai melepaskan bebanku mengiklaskan anakku wildan untuk berkembang dan mandiri, aku yakin Allah pasti menjaganya, uang juga sudah bisa ngatur, jadwalnya juga sudah padat, mulai dari sekolah, les, esskul basket dan lain-lain. semua tetep dukungan oran tua pastinya.
sehingga sekarang aku tidak setiap minggu harus ke kita, mandiri ya nak.
sekarang anakku juga terpilih jadi pemain basket di club sekolahanya, bahkan sudah disejajarkan dengan anak-anak kelas 12, Alhamdulillah.........
Baik-baik disana ya nang, jaga kesehatan, jaga diri, jaga sholat, jaga tilawah Qur'an, tetap istiqomah....
segala cinta, doa dan harapan ibu dan bapak serta adik untuk mas, sukses selalu.....kejar cita-citamu setinggi bintang dilangit.
Rabu, 30 September 2015
Selasa, 29 September 2015
Bapak Ibuku sumber inspirasiku
Assalamualaikum Wr.wb
Sungguh beruntung aku memiliki orang tua yang luar biasa hebat
banyak hal yang aku harus contoh dari beliau berdua (Insya Allah bisa)
Menginjak usia 80 bapakku dan ibuku 73 tahun, tahun ini, beliau berdua masih segar bugar tanpa kurang suatu apapun, tanpa keluhan. sebetulnya kalau dilihat riwayat keluarga kami, saya 9 bersaudara dengan bapak yang hanya kepala sekolah SD dan ibu hanya ibu rumah tangga, tentulah beban hidup mereka teramat berat lah apalagi kami semua sekolah sampai sarjana.....
Tapi sekali lagi orang tuaku adalah orang tua yang luar biasa, dan sekarang baru aku sadari bahwa apa yang mereka lakukan tidak pernah neko-neko dan hidup simple dan jangan merepotkan orang lain bahkan anak sendiri....sungguh membuat saya takjub, bukan apa-apa kepada anakpun bapak ibu tak ingin merepotkan apalagi kalau yang sudah berkeluarga, menurut beliau satu anak satu lagi mantu, tak usah lah membuat mereka bertekar hanya karena kepentingan orang tua.
Masa kecilku kulalui dengan keserhanaan jauh dari kesan mewah bahkan terbilang kurang tapi.......untuk hal-hal kesenengan ya, tapi kalau untuk sekolah bapak ibu sangatlah nomor satu
ngak bisa makan ngak papa yang penting anaknya sekolah titik
untuk menyekolahkan kami disamping dari gaji kepala sekolah SD ibu dan bapak juga berkebun dan bertani, tapi sepanjang aku tau belum pernah bapak ibu meminjam kepada saudara (entalah diera 80 an banyak anak2 dikampungku yang tidak sekolah sampai sarjana) sehingga bapak terutama sering di cemooh oleh tetangga bahkan saudara sendiri.
bahkan ada yang bilang terus terang : orang miskin aja mau sekolah emang mau jadi apa anaknya kalau sudah sekolah, paling nanti kerja disawah.
tapi sungguh bapak dan ibuku pekerja keras mereka malah lebih fokus untuk menyekolahkan anak-anaknya
dan yang aku salut dengan orang tuaku untuk menyekolahkan anak-anaknya semua beliau membayar sendir tanpa minta bantuan siapapun, bahkan ketika kakak-kakaku sudah mapat dan berkeluarga,beliau jika tidak bisa membayar SPP kami (adik-adiknya red) beliau rela hutang pada kakak-kakak kami
menurut orang tua ku biar adik-adik tidak perlu hutang budi dengan kakak-kakaknya.
Alhamdulillah.........kami kini semua sudah mapan dan berkecukupan, tapi kesederhanaan tetap menjadi ciri khas orang tuaku sampai sekarang.......
ketika ada kakak yang ingin memindahkan ke rumah yang lebih baik bapak ibu menolak tetap memilih tempat tinggal apa adanya yang mereka miliki sekarang dengan perabot seadanya dan ketika mereka kami beri uang selalu diberikan lagi kepada anak-anak kami, cucu -cucu beliau
Boro-boro minta, dikasih aja dibalikkan kembali lewat anak-anak kami
menurut bapak ibu mereka cukup hidup dengan uang pensiunan guru, sungguh bapak ibu tidak pernah merepotkan kami.
malah kadang aku suka ngomong tabungan untuk apa pak bu, kata mereka untuk persiapan kalau dari mereka sakit tidak susah merepotkan anak-anak. hiks.......hiks......sedih rasanya sekaligus terharu
yang lebih membuat aku terharu, setiap kami berkunjung selalu dapat jatah beras panenan keluarga dan kadang-kadang masih ada diantara kami anak-anaknya yang berhutang kepada beliau tampa bayar lagi ...........hehe....9 bersaudara memang karakternya beda-beda dan bapak ibu sangat mengerti kami.
bahkan selalu mengademkan kami yang kadang2 jengkel lihat ulah anak yang lain yang berhutang.
sampai dengan sekarang dari 9 saudara, akulah satu-satunya yang tinggal paling jauh tapi beliau selalu ingat aku bahkan rajin menelponku sebulan sekali.
love u bapak ibu, titip bapak dan ibu ya Allah, maaf aku tidak bisa merawatnya sepanjang waktu.
wassalamualaikum wr.wb
Sungguh beruntung aku memiliki orang tua yang luar biasa hebat
banyak hal yang aku harus contoh dari beliau berdua (Insya Allah bisa)
Menginjak usia 80 bapakku dan ibuku 73 tahun, tahun ini, beliau berdua masih segar bugar tanpa kurang suatu apapun, tanpa keluhan. sebetulnya kalau dilihat riwayat keluarga kami, saya 9 bersaudara dengan bapak yang hanya kepala sekolah SD dan ibu hanya ibu rumah tangga, tentulah beban hidup mereka teramat berat lah apalagi kami semua sekolah sampai sarjana.....
Tapi sekali lagi orang tuaku adalah orang tua yang luar biasa, dan sekarang baru aku sadari bahwa apa yang mereka lakukan tidak pernah neko-neko dan hidup simple dan jangan merepotkan orang lain bahkan anak sendiri....sungguh membuat saya takjub, bukan apa-apa kepada anakpun bapak ibu tak ingin merepotkan apalagi kalau yang sudah berkeluarga, menurut beliau satu anak satu lagi mantu, tak usah lah membuat mereka bertekar hanya karena kepentingan orang tua.
Masa kecilku kulalui dengan keserhanaan jauh dari kesan mewah bahkan terbilang kurang tapi.......untuk hal-hal kesenengan ya, tapi kalau untuk sekolah bapak ibu sangatlah nomor satu
ngak bisa makan ngak papa yang penting anaknya sekolah titik
untuk menyekolahkan kami disamping dari gaji kepala sekolah SD ibu dan bapak juga berkebun dan bertani, tapi sepanjang aku tau belum pernah bapak ibu meminjam kepada saudara (entalah diera 80 an banyak anak2 dikampungku yang tidak sekolah sampai sarjana) sehingga bapak terutama sering di cemooh oleh tetangga bahkan saudara sendiri.
bahkan ada yang bilang terus terang : orang miskin aja mau sekolah emang mau jadi apa anaknya kalau sudah sekolah, paling nanti kerja disawah.
tapi sungguh bapak dan ibuku pekerja keras mereka malah lebih fokus untuk menyekolahkan anak-anaknya
dan yang aku salut dengan orang tuaku untuk menyekolahkan anak-anaknya semua beliau membayar sendir tanpa minta bantuan siapapun, bahkan ketika kakak-kakaku sudah mapat dan berkeluarga,beliau jika tidak bisa membayar SPP kami (adik-adiknya red) beliau rela hutang pada kakak-kakak kami
menurut orang tua ku biar adik-adik tidak perlu hutang budi dengan kakak-kakaknya.
Alhamdulillah.........kami kini semua sudah mapan dan berkecukupan, tapi kesederhanaan tetap menjadi ciri khas orang tuaku sampai sekarang.......
ketika ada kakak yang ingin memindahkan ke rumah yang lebih baik bapak ibu menolak tetap memilih tempat tinggal apa adanya yang mereka miliki sekarang dengan perabot seadanya dan ketika mereka kami beri uang selalu diberikan lagi kepada anak-anak kami, cucu -cucu beliau
Boro-boro minta, dikasih aja dibalikkan kembali lewat anak-anak kami
menurut bapak ibu mereka cukup hidup dengan uang pensiunan guru, sungguh bapak ibu tidak pernah merepotkan kami.
malah kadang aku suka ngomong tabungan untuk apa pak bu, kata mereka untuk persiapan kalau dari mereka sakit tidak susah merepotkan anak-anak. hiks.......hiks......sedih rasanya sekaligus terharu
yang lebih membuat aku terharu, setiap kami berkunjung selalu dapat jatah beras panenan keluarga dan kadang-kadang masih ada diantara kami anak-anaknya yang berhutang kepada beliau tampa bayar lagi ...........hehe....9 bersaudara memang karakternya beda-beda dan bapak ibu sangat mengerti kami.
bahkan selalu mengademkan kami yang kadang2 jengkel lihat ulah anak yang lain yang berhutang.
sampai dengan sekarang dari 9 saudara, akulah satu-satunya yang tinggal paling jauh tapi beliau selalu ingat aku bahkan rajin menelponku sebulan sekali.
love u bapak ibu, titip bapak dan ibu ya Allah, maaf aku tidak bisa merawatnya sepanjang waktu.
wassalamualaikum wr.wb
"Terimakasih bapak dan ibuku, segala cinta dan doaku untukmu, sehat selalu, panjang umur dan bahagia selalu "
Senin, 28 September 2015
MENANTU VS MERTUA
Ada sebutan menantu dan ada sebutan mertua, 2 hal yang saling terkait untuk seseorang yang menikah
dan..........rasanya tidak asing lagi adanya konflik antara menantu dan mertua hal ini bukan hanya berlaku di Indonesia tapi juga ada kejadian yang sama atau hampir mirip di beberapa negara.
So........saya sendiri juga mengalaminya............sejak menyandang gelar sebagai istri maka otomatis saya jadi punya mertua (bapak mertua dan ibu mertua red).
kalau dengan bapak mertua relatif kita sebagai menantu seringnya nyaman-nyaman aja ya tapi........biasa dengan ibu mertua kita kudu banyak penyesuain, hal ini juga berlaku disaya.
Bagaimana tidak, suami saya anak bungsu, laki-laki satu satunya dan sarjana pisan.....
ngak kebayangkan gimana over protectivenya ibu mertua saya kepada suami saya.
Sebetulnya sebelum menikah saya sudah menyadari bakalan ada ganjalan dengan mertua terutama ibunya
dan pada saat itu juga sebetulnya ada beberapa laki-laki yang mapan siap menikah dengan saya
tapi inilah takdir bagaimana pun saya pun harus menemui takdir saya menikah dengannya.
Awal menikah mulai ibu mertua mengatur kami, mulai dari tempat tinggal, perabot dan lain-lainnya.....
bahkan apa yang kami makan terutama yang dimakan suami saya selalu di bahas beliau.
dan yang saya ingat sampai sekarang suami saya ngak boleh belanja untuk dimasak dan ngak boleh mengeluarkan air minum kalau ada tamu (saya sampai sekarang ngak paham kenapa ya?? hehe..........)
waktu itu saya lagi ngidam jadi suami yang mau masakin kami berdua jadi otomatis suami yang belanja, padahal itu kan romantis ya hehe..........
Oh ya awal menikah saya tinggal dirumah kakak ipar (mba suami ) yang rumahnya tidak ditempati, sehingga ibu mertua merasa itu rumah keluarganya sehingga setiap hari beliau bisa datang dan mengatur isi rumah.
mertua saya hobby masak loh dan hobby ngomong semuanya diomangin sampai dia tidak perduli lagi saya sakit hati atau tidak, jadi semua diatur dan semua diomongin mulai dari isi rumah, makanan, penampilan saya bahkan teman-teman saya dan semuanya negatif...........beda dengan saya, saya termasuk orang yang pendiam hampir semua hal yang dilakukan ibu mertua saya simpan sendiri tidak pernah cerita ke keluarga, pernah sih saya coba membicarakan dengan suami eh...kok ujung2nya ribut
malah ngak selesai.
puncak kesadaran saya muncul untuk berubah ketika saya sudah sakit hati dengan perlakuan beliau dengan saya ketika beliau bilang yang kami tempati adalah rumah beliau jadi apapun yang dia lakukan tidak boleh di ganggu gugat termasuk aturan semau beliau, dan waktu itu kakaknya juga mulai ikut-ikutan ngatur. bahasanya cukup pedas tapi saya sudah lupa (melupakannya red)
deg...........sakitnya tuh di situ ya, akhirnya saya mulai harus buka mata saya, setiap hari saya berdoa bagaimana mengahiri semua ini tanpa menimbulkan konflik keluarga.
saya sadar sepenuhnya ada beberapa mertua yang tidak bisa terlalu didekati dan jangan juga dijauhi.
oh ya waktu itu kami secara finansial juga masih pas-pasan, pas buat makan. sementara kakak ipr saya cukup berada sehingga ibu mertua sering membbandingkan pemberian kami dibandingkan dengan kakak ipar saya.
Alhamdulilah Allah mendengar doa saya dan saya mendapat jalan keluar.
saya dan suami putuskan keluar dari rumah kakak suami saya dan mencoba tinggal di rumah perusahaan
awalnya semua keluarga suami menentang tapi kami sudah bertekat untuk mandiri. bahkan ada yang meneror saya lewat telpon mau menguasai suami saya sendiri.
tapi kami sudah bertekat bukan untuk menghindari keluarga apalagi ibu mertua tapi supaya kami bisa mandiri termasuk bagaimana kami merencanakan hidup kami selanjutnya.
dengan usaha kami berdua yang rajin menabung dan iritte pol itu kata mertua saya hihi.........ada ceritanya waktu itu beliau datang mau lebaran sementara kue kami cuma ada 2 toples itupun didapat dari kiriman ibu saya, beliau sempet bilang kue gur rong tolpes delok kae neng umah akeh banget kiriman mbamu, orepmu kok mlarat temen....pake bahasa jawa terjemahannya adalah sbb: kue kok cuma 2 toples lihat tuh dirumah kue banyak banget dibelikan kakakmu, hidup kok miskin banget.
waktu itu saya tanggapi beliau dengan santai, wah enak banget ya bu kirimi cucunya dong yang disini hehe.......
oh ya meskipun kami di cemooh bahkan di nomor duakan tapi saya dan suami tidak putus silahturahmi ke orang tua, kami berprinsip kami hanya perlu memiliki privacy sendiri dalam rumah tangga tapi cinta dan sayang dan hormat kami tidak ada berkurang untuk keluarga.
Akhirnya tidak sampai 2 tahun kami punya rumah di lingkungan tempat kami bekerja dan seiring waktu kami pun semakin mantap di pekerjaan dan usaha.
kesadaran ibu muncul untuk tidak merendahkan kami terutama aku adalah ketika bapak mertua sakit seluruh biaya pengobatan kami yang tanggung, bahkan kemudian setelah bapak meninggal, baik ibu dan bapak kami hajikan dan hampir semua keperluan ibu sampai sekarang terus kami penuhi........
oh ya ibu mertua saya mualaf loh dan ketika saya masuk kekeluarga suami, termasuk belum rajin ibadahnya jadi pengalaman ibadah haji merupakan hal yang paling membahagiankan sekaligus membanggakan beliau.
dan kini kami saya dan mertua seperti ibu dan anak sendiri, meskipun kami tidak tinggal serumah bahkan setiap keputusan beliau selalu dibicarakan dengan saya terlebih dahulu.
bahkan ibu paling rajin menginap dirumah kami, menemani anak-anak kami.
konon dari tetangga kanan kiri, kini ibu selalu membanggakan kami sebagai anak yang berbakti, bahkan melebihi kakak-kakanya yang lain.
itu pengalamanku
kadang saya merenung sendiri kalau dulu saya tidak bertemu dengan mertua yang seperti mertua saya sekarang mungkin saya dan suami tidak bisa setangguh dan sekuat seperti sekarang.
dan..........rasanya tidak asing lagi adanya konflik antara menantu dan mertua hal ini bukan hanya berlaku di Indonesia tapi juga ada kejadian yang sama atau hampir mirip di beberapa negara.
So........saya sendiri juga mengalaminya............sejak menyandang gelar sebagai istri maka otomatis saya jadi punya mertua (bapak mertua dan ibu mertua red).
kalau dengan bapak mertua relatif kita sebagai menantu seringnya nyaman-nyaman aja ya tapi........biasa dengan ibu mertua kita kudu banyak penyesuain, hal ini juga berlaku disaya.
Bagaimana tidak, suami saya anak bungsu, laki-laki satu satunya dan sarjana pisan.....
ngak kebayangkan gimana over protectivenya ibu mertua saya kepada suami saya.
Sebetulnya sebelum menikah saya sudah menyadari bakalan ada ganjalan dengan mertua terutama ibunya
dan pada saat itu juga sebetulnya ada beberapa laki-laki yang mapan siap menikah dengan saya
tapi inilah takdir bagaimana pun saya pun harus menemui takdir saya menikah dengannya.
Awal menikah mulai ibu mertua mengatur kami, mulai dari tempat tinggal, perabot dan lain-lainnya.....
bahkan apa yang kami makan terutama yang dimakan suami saya selalu di bahas beliau.
dan yang saya ingat sampai sekarang suami saya ngak boleh belanja untuk dimasak dan ngak boleh mengeluarkan air minum kalau ada tamu (saya sampai sekarang ngak paham kenapa ya?? hehe..........)
waktu itu saya lagi ngidam jadi suami yang mau masakin kami berdua jadi otomatis suami yang belanja, padahal itu kan romantis ya hehe..........
Oh ya awal menikah saya tinggal dirumah kakak ipar (mba suami ) yang rumahnya tidak ditempati, sehingga ibu mertua merasa itu rumah keluarganya sehingga setiap hari beliau bisa datang dan mengatur isi rumah.
mertua saya hobby masak loh dan hobby ngomong semuanya diomangin sampai dia tidak perduli lagi saya sakit hati atau tidak, jadi semua diatur dan semua diomongin mulai dari isi rumah, makanan, penampilan saya bahkan teman-teman saya dan semuanya negatif...........beda dengan saya, saya termasuk orang yang pendiam hampir semua hal yang dilakukan ibu mertua saya simpan sendiri tidak pernah cerita ke keluarga, pernah sih saya coba membicarakan dengan suami eh...kok ujung2nya ribut
malah ngak selesai.
puncak kesadaran saya muncul untuk berubah ketika saya sudah sakit hati dengan perlakuan beliau dengan saya ketika beliau bilang yang kami tempati adalah rumah beliau jadi apapun yang dia lakukan tidak boleh di ganggu gugat termasuk aturan semau beliau, dan waktu itu kakaknya juga mulai ikut-ikutan ngatur. bahasanya cukup pedas tapi saya sudah lupa (melupakannya red)
deg...........sakitnya tuh di situ ya, akhirnya saya mulai harus buka mata saya, setiap hari saya berdoa bagaimana mengahiri semua ini tanpa menimbulkan konflik keluarga.
saya sadar sepenuhnya ada beberapa mertua yang tidak bisa terlalu didekati dan jangan juga dijauhi.
oh ya waktu itu kami secara finansial juga masih pas-pasan, pas buat makan. sementara kakak ipr saya cukup berada sehingga ibu mertua sering membbandingkan pemberian kami dibandingkan dengan kakak ipar saya.
Alhamdulilah Allah mendengar doa saya dan saya mendapat jalan keluar.
saya dan suami putuskan keluar dari rumah kakak suami saya dan mencoba tinggal di rumah perusahaan
awalnya semua keluarga suami menentang tapi kami sudah bertekat untuk mandiri. bahkan ada yang meneror saya lewat telpon mau menguasai suami saya sendiri.
tapi kami sudah bertekat bukan untuk menghindari keluarga apalagi ibu mertua tapi supaya kami bisa mandiri termasuk bagaimana kami merencanakan hidup kami selanjutnya.
dengan usaha kami berdua yang rajin menabung dan iritte pol itu kata mertua saya hihi.........ada ceritanya waktu itu beliau datang mau lebaran sementara kue kami cuma ada 2 toples itupun didapat dari kiriman ibu saya, beliau sempet bilang kue gur rong tolpes delok kae neng umah akeh banget kiriman mbamu, orepmu kok mlarat temen....pake bahasa jawa terjemahannya adalah sbb: kue kok cuma 2 toples lihat tuh dirumah kue banyak banget dibelikan kakakmu, hidup kok miskin banget.
waktu itu saya tanggapi beliau dengan santai, wah enak banget ya bu kirimi cucunya dong yang disini hehe.......
oh ya meskipun kami di cemooh bahkan di nomor duakan tapi saya dan suami tidak putus silahturahmi ke orang tua, kami berprinsip kami hanya perlu memiliki privacy sendiri dalam rumah tangga tapi cinta dan sayang dan hormat kami tidak ada berkurang untuk keluarga.
Akhirnya tidak sampai 2 tahun kami punya rumah di lingkungan tempat kami bekerja dan seiring waktu kami pun semakin mantap di pekerjaan dan usaha.
kesadaran ibu muncul untuk tidak merendahkan kami terutama aku adalah ketika bapak mertua sakit seluruh biaya pengobatan kami yang tanggung, bahkan kemudian setelah bapak meninggal, baik ibu dan bapak kami hajikan dan hampir semua keperluan ibu sampai sekarang terus kami penuhi........
oh ya ibu mertua saya mualaf loh dan ketika saya masuk kekeluarga suami, termasuk belum rajin ibadahnya jadi pengalaman ibadah haji merupakan hal yang paling membahagiankan sekaligus membanggakan beliau.
dan kini kami saya dan mertua seperti ibu dan anak sendiri, meskipun kami tidak tinggal serumah bahkan setiap keputusan beliau selalu dibicarakan dengan saya terlebih dahulu.
bahkan ibu paling rajin menginap dirumah kami, menemani anak-anak kami.
konon dari tetangga kanan kiri, kini ibu selalu membanggakan kami sebagai anak yang berbakti, bahkan melebihi kakak-kakanya yang lain.
itu pengalamanku
kadang saya merenung sendiri kalau dulu saya tidak bertemu dengan mertua yang seperti mertua saya sekarang mungkin saya dan suami tidak bisa setangguh dan sekuat seperti sekarang.
Langganan:
Komentar (Atom)

